Rabu, 10 Februari 2010

TAK INGIN JADI BEBAN

“Boleh pinjam uang enggak, saya mau pulang nih. Takut kalau saya pulang dengan tangan hampa, orang tua di rumah khawatir akan kehidupan saya di sini.”
Sungguh saya terenyuh ketika mendengar penuturan saudara saya yang satu ini. Penuturan yang membuat mata ini pedih, mengingat saya tak punya apa-apa untuk membantunya menghilangkan rasa khawatir pada kedua orang tuanya, ketika ia pulang.
Mata ini makin pedih, ketika mengingat tidak hanya saudara yang satu ini saja yang berharap tidak menjadi beban buat orang tua mereka, masih ada sepuluh, seratus, atau mungkin seribu saudara- saudara saya yang memiliki harapan yang sama. Lalu apa yang bisa saya lakukan buat saudara-saudara saya? Padahal untuk mencukupi keperluan sehari-haripun, saya masih berharap uluran tangan kakak tercinta.

Sungguh bukan malas yang menyebabkan saudara-saudara saya harus merasakan betapa sakitnya rasa lapar, bukan pula karena terlalu perhitungan, sehingga sampai saat ini mereka belum juga mendapat pekerjaan. Bukan, bukan karena itu!
Saudara-saudara saya adalah guru-guru saya dalam beramal, guru-guru saya dalam berkorban, dan guru-guru saya dalam bersabar. Saya yakin jika Allah memudahkan saudara-saudara saya mencari rizki, maka saya pun akan melihat mereka sebagai pekerja yang ulet dan tak kenal lelah, sebagaimana yang mereka lakukan ketika berjalan berkilo-kilometer dari satu tempat ke tempat lain, hanya untuk berbagi ilmu dan berbagi kenikmatan akan hidayah yang Allah berikan.

Satu kali saya pernah menemani saudara saya berjalan dari sukajadi ke balaendah, setelah bersama-sama menuntut ilmu di rumah seorang ustadz. Kami saat itu tak punya uang yang cukup untuk naik angkot, yang ada di saku saya hanya uang Rp. 2.000,00 dan tak ada sepeserpun uang disaku teman saya. Sehingga kami pun berjalan di bawah sinar rembulan yang cukup terang.

Di perjalanan kami melihat dengan mata kami langsung bagaiman kondisi kota Bandung dikala malam telah datang. Ternyata tak semua orang seperti saudara-saudara saya yang rela kekurangan dan rela untuk berjalan demi harga diri, demi kehormatan, dan tentunya demi iman.